Sumur Tua Bulo Gading

50
Bagikan via
Sumur Bulogading Makassar

Sumur Tua yang terletak di Kelurahan Bulogading Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar ini, merupakan sumur besar yang dalamnya sekitar tiga meter.

Sumur yang sudah ada sejak berpuluh tahun lamanya tersebut, diyakini oleh sebagian warga sekitar sebagai situs sejarah. Selain tidak diketahui pemiliknya, di sekitar sumur itu juga ada kuburan tua tanpa identitas.

Warga setempat meyakini kuburan itu merupakan makam wanita cantik yang selalu menampakkan diri dengan jubah baju adat khas Makassar yaitu baju bodo.

Menurut informasi dari warga sekitar, dia yang diyakini penunggu kuburan tersebut muncul jika sumur tua itu kotor. Atau jika ada yang mandi telanjang. Massyarakat setempat juga menyebut sumur tua itu sebagai kembaran Bungung Lompoa, yang artinya sumur besar, yang ada  di Kabupaten Gowa.

Sumur tua itu dipercayai masyarakat sebagai sumur yang memiliki barokah. Begitu juga makam tua yang berada tepat di samping sumur, merupakan penghuni awal Kampung Bulogading.

Masyarakat Bulo Gading memanfaatkan sumur itu sebagai air minum, air mandi, dan juga untuk mencuci pakaian. Uniknya, air sumur tua tersebut tidak pernah habis, sekalipun musim kemarau datang.

Selain itu, sumur tua atau Bungung Lompoa itu, juga dimanfaatkan oleh warga dari luar Kota Makassar seperti dari ‎Kabupaten Takalar, Mamuju dan masih banyak daerah lainnya di Sulawesi Selatan ataupun Sulawesi Barat yang datang mengambil air di sumur tersebut. Mereka meyakini, air sumur itu sebagai obat.

Bahkan dari hasil bincang-bincang dengan salah ssatu warga Bulo Gading, Daeng Lino seorang perempuan berusia 75 tahun, ia sudahlama tiggal di sekitar sumur tua. Dia juga mengatakan, biasanya ada beberapa warga dari Pulau Jawa yang datang ke sumur ini mengambil air untuk mengobati sanak keluarganya yang sedang menderita penyakit berat.

Tinggiya rasa keyakinan warga terhadap sumur tua tersebut, semuanya sepakat tidak membuat WC di rumah masing-masing. Mereka takut ditegur oleh penghuni makam. Yang kerap kali menampakkan wujudnya jika banyak kotoran di sekitar sumur.

Mereka memilih ke WC umum yang disediakan jauh dari lokasi sumur dan makam, dan hanya ada 1 WC yang dibuat di samping Kantor Lurah Bulogading.

Sumur tersebut digunakan juga oleh masyarakat sekitar benteng untuk mandi dan minum, serta airnya digunakan untuk mencuci benda-benda pusaka milik kerajaan di saat upacara pemandian benda-benda Kerajaan Gowa digelar.*andi amriani