Dulu Jualan Kue, Sekarang Pimpin DPRD

58
Bagikan via

Zulkifli Zain / Ketua DPRD Kabupaten Sidrap

Jenjang karir seseorang tidak selamanya berjalan mulus, berjuta rintangan dan tantangan kadangkala menjadi bumbu dalam mencapai impian dan cita-cita. Sama halnya Ketua DPRD Kabupaten Sidrap Sulsel, Zulkifli Sain.

Ayah dari tiga orang anak ini, sejak terpilih sebagai Wakil Rakyat tiga tahun yang lalu juga menuai berbagai rintangan sebelum ia menjabat sebagai Ketua DPRD.

Masa-masa sulit dalam keluarganya ketika ia masih duduk di bangku SMA kelas I mengharuskan ia bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Khususnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sehingga sepulang dari sekolah Zulkifli ikut membantu kedua orang tuanya berjualan kue.

Kala itu, ibunya membuat jalangkote, dan es manis, lalu ia menjualnya ke sekolah. Kadang juga -keliling kampung untuk menjajakan kue buatan orang tuanya. Kondisi tersebut tidak membuatnya malu, sebaliknya ia merasa bangga bisa membantu orang tua dan tidak meninggalkan pendidikannya.

Tiga tahun jualan kue, lelaki kelahiran 1973 inipun menyelesaikan pendidikannya hanya sampai bangku SMA itupun ikut ujian paket C. Karena kondisi keuangan keluarga kala itu tidak memungkinkan, iapun tidak melanjutkan pendidikan hingga ke bangku kuliah. Pada saat itulah Zulkifli hanya berfikir untuk usaha. Tidak pernah terlintas dibenaknya menjadi seorang pejabat, atau bermimpi jadi seorang pemimpin.

Sepeninggal ibunya iapun berhenti jualan, dan ikut pamannya merantau ke Manado tepatnya di Kota Sangirta Laud.  Untuk mengobati kesedihannya karena ditinggal orang yang sangat ia sayangi, bungsu dari enam orang bersaudara inipun membantu pamannya jualan pakaian.

“Kala itu, saya memang tidak pernah bercita-cita menjabat atau menjadi pemimpin. Karena saya tamatan SMA, maka saya hanya berfikir untuk usaha saja,” katanya ketika ditemui di Warkop 212 Toddopuli.

Tidak heran, saat di Manado ia juga menggeluti usaha jual emas. Jual emas itulah yang merubah hidupnya menjadi semakin hidup.

Terjun ke dunia politik juga bukan bagian dari impiannya, tetapi tertarik dengan politik sudah ada ketika ia kembali ke kampung halamannya di Sidenreng Rappang. Disana ia bergabung dengan Wahdah Islamiyah, tahun 1973 saat itu ia sudah berkeluarga.

Karena ia menganggap politik itu bagian dari ibadah, dan ingin merubah pikiran negatif masyarakat tentang politik akhirnya iapun bergabung di bawah bendera golkar. Menjadi bagian dari golkar, Zulkifli mulai mengenal politik lebih dalam.

Ia juga tidak mencalonkan jadi wakil rakyat. “Mungkin sudah petunjuknya, ada teman yang mencalonkan tetapi lebih dulu dipanggil sang khalik, sehingga dari partai saya di dorong untuk menggantikan beliau dan sayapun terpilih,” katanya.

Program kerjanya selama di duduk di kursi legislatif pun terkesan unik, tidak menerima gaji selama menjabat sebagai anggota dewan. Melainkan mengalihkan ke kerja sosial. Salah satunya menyediakan ambulans gratis untuk masyarakat, yang saat ini sudah ada dua unit. Selain itu juga memberangkatkan umroh masyarakat kurang mampu. *

Menikah di Usia 24 Tahun

Menikah di usia 24 tahun juga terbilang masih muda bagi seorang laki-laki tetapi bagi Zulkifli itu bukanlah masalah. Ketika ia sudah mulai mapan, saat itu juga ia jatuh cinta pada seorang gadis di Sidrap tahun 1997, iapun merasa sudah cocok begitupula dengan keuarganya merestui dan iapun menikahi Hadariah.

Bersama Hadariah, ia berkomitmen untuk membangun rumah tangga dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang serta menerapkan pendidikan agama islam. Di usia setahun pernikahannya iapun di karunia seorang anak, dan hingga saat ini sudah tiga orang anak.

Untuk istri dan anak-anaknya, Zulkifli menerapkan pendidikan agama, ketiga anaknya sekolah di pesantren dan sekolah tahfidz qur’an.

“Saya berharap anak-anak saya lebih mengutamakan pendidikan agama, rajin mengaji dan juga hafal qur’an,” terangnya. *andi amriani