Pesona Arsitektur Tiongkok di Masjid Laksamana Cheng Ho

69
Bagikan via

Klenteng memang bukanlah sekadar rumah ibadah tetapi keunikan arsitekturnya menjadi ciri khas, sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Tetapi, bagaimana jadinya jika bangunan yang memiliki nilai seni tinggi itu berpadu dengan gaya bangunan khas Timur Tengah?

Bangunan yang berlokasi di Jalan Tun Abdul Razak Kabupaten Gowa, memiliki daya tarik tersendiri.  Sehingga menarik perhatian masyarakat, dari sejumlah daerah.

Desain bangunan bagian depan memadukan dua budaya yang berbeda yang menyatu sangat apik. Dua budaya itu terlihat pada bentuk bangunan, yang menyerupai klenteng khas Tiongkok dan penggunaan kubah di bagian atas yang identik dengan Timur Tengah.

Kendati yang terlihat hanya perpaduan dua budaya luar, tetapi ternyata tidak meninggalkan cirri khas budaya Bugis-Makassar yaitu sulapa appa’ atau dalam bahasa Indonesia berarti persegi empat yang dimaknai empat arah penjuru mata angina.

Bangunan itu tidak lain adalah salah satu masjid yang dibuat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sulawesi Selatan di bawah naungan yayasan Muh Cheng Hoo. Masjid yang sekilas mirip klenteng ini bukanlah bangunanyang pertama, tetapi kini sudah dibangun masjid serupa di daerah Tanjung Bunga Makassar.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Muh Cheng Hoo Suhardi menuturkan, keinginan para pengurus maupun anggota PITI memiliki tempat berkumpul terutama mesjid memang sudah ada sejak lama. Tetapi, rencana ini baru terealisasi sekitar tahun 2011 silam.

“Awalnya, salah satu yang menjadi kendala adalah memiliki tempat yang berada di daerah strategis, dengan mempertimbangkan biaya juga . Kami juga sudah mencari di daerah pecinan tetapi tidak ada lokasi yang ditemukan.

Akhirnya, kami menemukan tempat di daerah tanah karaeng Bili’-Bili’, tetapi pertimbangan jarak yang jauh akhirnya kami memutuskan mencari yang di daerah kota, katanya saat dimintai komentarnya. Hingga empat tahun proses pembangunan mesjid ini, lanjut Suhardi, ternyata mendapat respon yang baik baik dari masyarakat umum hingga pemerintah.

“Budget awal kita memang 10 miliar untuk membuat mesjid ini. Tetapi alahamdulillah, dengan bantuan para donator baik dari pemerintah maupun masyarakat umum, bahkan yang non-muslim pun ikut membantu, akhirnya mesjid ini bisa ada,”ujarnya.

Desain mesjid menyerupai klenteng memang sengaja dipilih sebagai bentuk identitas mereka. Kendati demikian tidak meninggalkan ciri khas mesjidnya dengan menggunakan kubah.

Berukuran 24 X 24 meter dan berdiri kokoh di atas luas lahan 3000 meter persegi, mesjid berlantai dua ini ditopang empat tiang yang lagi-lagi tidak meninggalkan ciri khas klenteng dengan menggunakan keramik khusus bermotif serta berwarna coklat. Keramik ini bahkan dianggap memiliki keunggulan tersendiri karena memberikan rasa dingin.

Mesjid yang mulai dibuka untuk umum sejak dua tahun terakhir ini memang didominasi warna-warna klenteng seperti merah dan kuning yang dikombinasikan dengan warna hijau. Hal ini tampak terlihat pada warna yang digunakan di bagian dinding bagian luar mesjid.

Sementara, saat Anda mulai masuk ke dalam mesjid perpaduan warna putih dan coklat terlihat mendominasi. Sedangkan, jemaah khusus perempuan memang ditempatkan di lantai II.

Desainnya juga tidak kalah unik. Nuansa Timur Tengah memang sangat kental terlihat dengan motif bintang di langit-langit bangunan. Selain itu, model kubah juga dipilih sebagai jendela terlihat berjejer di sekeliling bangunan.

Muhammad Eddy Yap yang tidak lain Sekertaris Ta’mil masjid Muh Cheng Hoo mengatakan, penggunaan nama “Cheng Hoo” dimaksudkan untuk mengabadikan seorang laksamana yang berasal dari Kerajaan Ming. Seperti diketahui, Laksamana Cheng Ho adalah pemeluk Islam yang melanglang buana ke perairan nusantara.

“Sudah tidak bisa saya jelaskan panjang lebar, yang pasti kenapa kita memilih nma itu karena beliau (Muh Cheng Hoo) telah mencatatkan namanya dalam sejarah,”katanya, kemarin.*rahma/ani*