Penggalian Manfaat Pangan di Indonesia Minim

43
Bagikan via
Theresa Birks dari British Council men, jurnalisme yampaikan bahwa sains berperan penting dan menjadi salah satu perhatian lembaganya.

Indonesia memiliki sumber pangan beragam tapi penggalian manfaat sedikit. Di sisi lain, Indonesia membiarkan pangan impor masuk.

Tejo Wahyu Jatmiko dari Indonesia Berseru, lembaga yang fokus pada isu pangan serta desa, mengatakan, Indonesia mengalami paradoks soal pangan. Survei yang dilakukan lembaganya pada generasi milenial mengungkap, pemahaman pangan sangat minim.

“Informasi pangan banyak tetapi mereka tahu sedikit,” katanya, dihadapan para jurnalis peserta Face to Face Meeting, Indonesian Science Journalists Mentoring Program 2017, yang digelar oleh Society of Indonesian Science Journalist (SISJ), di Jakarta yang berlangsung 21- 22 Juli.

Indonesia memiliki sumber pangan beragam tapi penggalian manfaat sedikit. Di sisi lain, Indonesia membiarkan pangan impor masuk.

“Sumber karbohidrat kedua kita sekarang roti dan mie. Banyak yang tidak tahu bahwa terigu itu 100 persen impor. Indonesia dijajah mulai dari lidah kita,” katanya.

Berupaya meningkatkan pemahaman publik, Society of Indonesian Science Journalist (SISJ) mengadakan pelatihan jurnalisme sains yang fokus pada isu pangan. Pelatihan yang didukung oleh Sasakawa Peace Foundation dan British Council ini diikuti oleh 20 jurnalis dari berbagai media, mulai Tirto.id, BBC Indonesia, dan grup Tribun.

Pelatihan fokus pada isu pangan dari sisi sains. Harapannya, informasi pangan yang tersebar berbasis riset dan bisa mendasari penyakit berbasis penelitian. Mariko Hayashi dari Sasakawa Peace Foundation mengatakan, meski fokus pada isu pangan, pelatihan jurnalisme sains ini diharapkan punya dampak lebih luas.

“Lewat pangan, kita berharap bisa mendorong perhatian pada persoalan pembangunan, hak asasi manusia, dan kerjasama dunia,” katanya.

Sementara Theresa Birks dari British Council menuturkan, jurnalisme sains berperan penting dan menjadi salah satu perhatian lembaganya.

“Di tengah beragam hoax, klaim, dan informasi yang tidak benar, termasuk dalam soal pangan, jurnalisme sains diharapkan bisa memberi pencerahan,” ungkapnya.. Pelatihan jurnalisme sains ini akan berlangsung selama 10 bulan dengan dua kali pertemuan tatap muka. Pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari program SjCOOP Asia yang diprakarsai World Federation of Science Journalists (WFSJ) untuk memajukan jurnalisme sains di kawasan Asia Tenggara. *andi amriani